GUS HALIM: TARIK PENGUNJUNG, WISATA ALAM DESA TERKADANG BUTUH MITOS

  Minggu, 03 Juli 2022

YOGYAKARTA – Wisata desa yang berbasis alam terkadang membutuhkan mitos atau legenda untuk lebih menarik wisatawan. Tentu saja legenda atau mitos yang ada di desa perlu dikemas lebih menarik agar dapat menjadi ciri khas desa dan tidak terkesan mengada-ada.
 
Hal demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar saat menjadi keynote speaker dalam Diskusi Panel dengan tema “Pandemi Global, Pemberdayaan dan Ketahanan Desa Wisata dan Wisata Perdesaan di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta pada Minggu (3/7/2022).
 
“Saya persilakan desa wisata membikin narasi-narasi yang menarik, yang membangun mitos dengan catatan tidak mengada-ada,”ujar Gus Halim sapaan akrabnya.
 
Menurut Gus Halim pengemasan mitos atau legenda salah satunya dengan meng-eksplorasi kisah lokal desa yang secara turun menurun diceritakan oleh nenek moyang atau dari adat istiadat desa.
 
“Misalnya, sumber air yang memang sudah sejak lama tidak pernah mati, kemudian dikembangkan menjadi kolam renang dan seterusnya. Nah, yang saya  sebut mengarang itu adalah bagaimana kemudian kita membangun mitos bahwa siapa pun yang mencuci muka di sumber air itu akan awet muda,” ujarnya.
 
Gus Halim menjelaskan, pengemasan mitos atau legenda desa yang berbasis kearifan lokal desa dan kisah nenek moyang, akan memantik rasa penasaran para wisatawan. Sehingga berkeinginan untuk mengunjungi wisata alam di desa.  
 
“Kenapa saya katakan jangan mengada-ada? Karena kalau narasinya terlalu jauh dari fakta, nanti khawatir terperosok. Tapi kalau misalnya sumber air, itu banyak mitosnya. Yang penting berbasis pada kearifan lokal,” imbuhnya.
 
Di akhir paparannya, Gus Halim juga mengimbau agar desa tersebut tidak memaksakan diri kalaupun di suatu desa tidak punya potensi untuk menjadi desa wisata. Ia menyarankan desa yang tidak punya potensi menjadi desa wisata agar berkolaborasi dengan desa-desa sekitar yang mempunyai wisata, baik kolaborasi dalam hal parkiran, penitipan produk lokal BUMDes dan yang lainnya.
 
“Pokoknya jangan memaksakan apa pun yang tidak menjadi potensi. Kalau memang tidak punya potensi desa wisata, jangan memaksakan diri,” tuturnya.
 
Sebagai informasi, turut hadir di acara ini, Kepala Dinas Pariwisata D.I Yogyakarta, Singgih Raharjo, kemudian Manager Regional Engagement and Sustainibility PT. HM Sampoerna, Kukuh Dwi Kristianto, lalu Direktur STAPA Center, Agus Rohmatullah, serta perwakilan kepala desa, pendamping desa, dan pengelola desa wisata. 
 
Foto: Mugi/Humas Kemendes PDTT 
Teks: Rifqi/Humas Kemendes PDTT
Editor: Riza Pahlevi / Ahmad Hadi