Kamis, 14 September 2017

SUKABUMI - Memiliki prestasi mencetak kluster pertanian komoditas padi di wilayah Sukabumi dan sekitarnya, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, akan menjadikan Badan Usaha Milik Rakyat (BUMR) Ar Rohmah sebagai percontohan bagi seluruh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Hal itu diungkapkan Menteri Eko di sela-sela kunjungan kerjanya di Sukabumi, Minggu (10/9)

Setelah melakukan pertemuan informal dengan pihak BUMR, Menteri Eko didampingi Wakil Bupati Sukabumi, Adjo Sarjono, dan Komisaris BUMR Pangan, Luwarso, langsung menuju pabrik pengolahan beras. Dirinya pun menengok langsung sistem modern pengolahan beras dari gabah hingga pengemasan dengan merek Caping Gunung.

"BUMR ini jadi model bagus karena mampu mengkorporasikan petani dalam sekala besar dengan proses yang sudah modern. Ini akan kita jadikan percontohan untuk BUMDes yang sudah ada," ujar Menteri Eko.
Menteri Eko mengatakan, dirinya juga akan mempelajari lebih jauh proses bisnis BUMR. Selain itu, Menteri Eko juga akan menganalisis kesesuaian model yang dikembangkan BUMR dengan karakter BUMDes yang sudah ada dan bergerak di bidang pangan.

Ketua BUMR Ar Rohmah, Luwarso, mengapresiasi kunjungan Mendes PDTT ke lokasi produksi pertaniannya. Menurutnya, ide membangun BUMR Pangan yakni untuk menjamin kualitas produksi dan pemasaran produksi petani yang merupakan anggota Koperasi Ar Rohmah. Dibangunnya penggilingan padi modern juga bertujuan untuk menjamin kualitas dan harga gabah petani.

"Saat ini kami membeli BUMR pangan membeli gabah dari petani Rp 4.000 per kg. Harga beli tersebut diatas Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah," kata Luwarso.

Luwarso menambahkan, keunggulan lain penggilingan padi modern tersebut yakni aspek efisiensi karena proses penggilingannya tidak tergantung cuaca. Proses pengolahan mulai dari padi basah menjadi beras dalam kemasan menggunakan mesin. Proses tersebut hanya membutuhkan waktu kurang dari 24 jam.

Produksi BUMR Pangan Sukabumi saat ini mencapai 1,5 ton per jam dengan luas lahan pertanian 1.000 hektar. Menurut Luwarso, kluster pangan nantinya tidak hanya memproduksi beras, melainkan juga komoditas utama pertanian lainnya, yakni jagung, kedelai, bawang merah, tebu, hortikulutura, dan peternakan.