Jawab Keraguan Publik, Mendes PDTT Paparkan Capaian Nyata Dana Desa

  Selasa, 04 April 2017

Jakarta - Keraguan masyarakat tentang hasil dari dana desa mampu terbantahkan. Hal itu dijawab dengan sejumlah capaian nyata di tahun 2016 lalu. Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Sandjojo, saat menghadiri Sindo Weekly Government Award 2017 di Jakarta, Senin (3/4).

“Tercatat tahun 2016, dana desa telah mampu membangun lebih dari 60.000 kilometer jalan, lebih dari 30.000 MCK, lebih dari 30.000 Poliklinik desa, dan masih banyak lainnya,” ujarnya.

Menteri Eko memaparkan, Indonesia pada akhir tahun 2014 terkena dampak krisis ekonomi dunia yang berakibat turunnya ekonomi negara dari 6 persen menjadi 4,8 persen. Kemudian di tahun 2015, pemerintah mengalirkan dana Rp 20,8 Triliun langsung ke desa-desa, yakni dana desa. Dirinya menilai, inisiasi pemerintah tersebut awalnya menuai keraguan dari berbagai kalangan.

“Banyak yang ragu apakah desa mampu? Apakah kepala desa mampu? Sebagian besar kepala desa kita masih banyak yang tamatan SMP dan SMA, bahkan ada yang tamatan SD. Cuma kalau kita menunggu mereka mampu pasti tidak mampu-mampu. Harus ada keberanian politik untuk memulai. Kita harus memulai meskipun tantangannya banyak,” ujarnya.

Namun Menteri Eko mengatakan, sejarah membuktikan bahwa dana desa mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi desa. Menurutnya di saat desa masih dibayang-bayang krisis, pertumbuhan ekonominya justru meningkat rata-rata di atas dua digit.

“Dana desa terbukti mampu menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ekonomi Indonesia di tengah dunia masih krisis, pertumbuhan ekonomi Indonesia positif dari 4,8 menjadi 5,0 persen. Makanya dana desa dinaikkan dari Rp20,8 Triliun (Tahun 2015) menjadi Rp46,98 Triliun (Tahun 2016),” terangnya.

Ia melanjutkan, perbaikan demi perbaikan akan terus dilakukan agar program dana desa dapat terealisasi dengan baik. Untuk penyerapan dana desa di tahun 2016 sendiri, meningkat dari 80 persen di tahun 2015 menjadi 99,8 persen.

“Dana desa tahun 2015 karena masih baru maka masih banyak masalah. Tapi terbukti dana desa mampu memberikan pekerjaan kepada masyarakat desa, mampu meningkatkan kebutuhan infrastruktur dasar desa-desa. Waktu itu dipakai untuk infrastruktur dasar. Karena kekurangan infrastruktur dasar, desa jadi susah tumbuh  ekonominya,” ujarnya.